Monday, September 6, 2010

Kartu Lebaran

Oke... setelah sebulan berpuasa, saatnya kita menuju ke hari kemenangan, aamiin... yaitu hari Idul Fitri atau biasa disebut lebaran. Nah nah nah... lebaran identik dengan saling bermaafan untuk lebih mensucikan diri kita di hari yang suci. Jadi, kali ini kami mau memberikan salah satu media yang bisa dipake untuk bermaafan, yaitu kartu lebaran digital.

Ada 3 koleksi, mungkin bertambah, semuanya orisinil, ga ada ngopi2 an. Semua foto ini silahkan diunduh dan disebarluaskan syaratnya mudah, jangan ada yang diubah dari isi foto tersebut dan beritahu link blog ini di tempat kamu menyebarkan... oke?

silahkan...





























Contributors:
Andam Deatama Refino andam_refino@yahoo.com
Annisa Aulia Handika nev_cherl@yahoo.com
Andaru Katri Lasrindy andarukatrilasrindy@yahoo.com
Dimas Praja Purwa Aji overdimas@yahoo.com
Leon Aulia leon.aulia@gmail.com
M. Bainul Haqi universal_key2@yahoo.com

Thursday, September 2, 2010

Resep: Puding Enak Sekali

Oke, buah durian buah kedongdong, abis puasa seharian ya buka dong..
Nah, sekarang kami mau bagi-bagi resep buat buka nih, namanya Puding Enak Sekali.
Buatnya simple kok, gak susah-susah amat. Cobalah sekali-kali bikin ta’jil sendiri gitu, lebih gimanaa gitu rasanya. Terutama buat para wanita nih, salah satu keahlian yang menarik hati kami itu bisa masak lalalalala *pergi dengan santai.
Oke lupakan yang tadi, langsung saja nih resepnya

Bahan Puding Buah:
- Agar-agar bubuk putih 1/2 bungkus
- Jeli bubuk rasa leci 1/2 bungkus


- Air buah kaleng 700 ml
- Gula pasir 50 gram
- Buah kaleng campur 250 gram, potong dadu kecil
- Nata de coco 100 gram
Bahan Puding Cokelat:
- Agar-agar bubuk coklat 1/2 bungkus
- Jeli bubuk coklat 1/2 bungkus
- Susu coklat 600 ml
- Gula pasir 75 gram
- COklat masak pekat 75 gram
- Coklat pasta 1 sdt

Cara Membuatnya:
1. Puding buah: Campur semua bahan puding buah kecuali buah kaleng dan nata de coco. Rebus sambil diaduk hingga mendidih. Angkat. Tambahkan buah dan nata de coco, aduk rata. Tuang adonan dalam cetakan puding hingga 3/4 tinggi cetakan. Diamkan hingga 1/2 beku.
2. Puding coklat: Campur semua bahan puding coklat. Rebus di atas api kecil sambil terus diaduk hingga mendidih. Angkat. Tuang puding coklat di atas puding buah hingga cetakan penuh. Bekukan.

Hidangkan sesuka hati... yummm...

Jokes bulan September

Suatu hari seorang laki-laki menginap di hotel bintang 5. Dia menginap di lantai 35. Karena bosan menonton tv, dia asik berdiri di beranda, melihat pemandangan
tiba2 ada suara dari bawah : "Bobi, istri dan anakmu pergi dari rumahmu!"
Spontan si lelaki lompat dari beranda dan jatuh ke bawah

saat jatuh setinggi lantai 23, ia merenung : 'aku kan tidak punya rumah.??'

saat lantai 15; 'loh? aku kan tidak punya perempuan?'

saat lantai 10: 'aku kan belum menikah??'

saat setinggi lantai 5, ia baru sadar namanya bukan bobi

Kata Bijak bulan September

"Bukan pukulan ke seribu yang membuat batu itu pecah, namun 999 pukulan lah yang telah memecahkannya, pukulan ke seribu hanyalah sebagai hasil"- Unknown Author

Kumpulan Iklan Spesial Ramadhan

Oke, sering liat kan iklan2 yang menggugah waktu bulan ramadhan? Kali ini kami mau memberikan kembali iklan2 spesial ramadhan yang pernah muncul beberapa tahun kebelakang. Bukan bermaksud untuk promosi produk-produk tersebut ya. Dijamin bagus-bagus dan menyentuh sanubari... jangan sungkan untuk buffer untuk sesuatu yang InsyaAllah bermanfaat...

oke langsung aja

1. Jangan biarkan kemarahan membakar keramahan (pak pos pt.1)


2. Mari rayakan kemenangan hati (pak pos pt.2)


3. Tak pernah putus berbagi kebaikan di bulan Ramadhan


4. Keikhlasan adalah saat kita memberi tanpa mengharapkan imbalan


5. Sejauh mana kesabaran kita... (kurma pt.1)
mantep nih iklannya..


6. Jernihkan hati untuk kembali fitri (kurma pt.2)


7. Sebar kebaikan, raih kemenangan


8. Rela berbagi ikhlas memberi


9. Puasa menahan diri sabarkan hati NEW!


10. Sebarkan pesan kebaikan NEW! ini kocak banget ekspresi anak kecilnya..hahaha


11. Nikmati berkah ramadhan NEW! ini juga kocak! hahaha

Tuesday, August 31, 2010

Cerbung: Tinju Bainul untuk Ramadhan

ceTokyo, 1 Ramadhan 1419 H, Rabu, 19.43 pm


Suasana musim gugur di Jepang nampak lengang. Sejumlah lokasi wisata yang begitu ramai dikunjungi saat musim semi dan mengandalkan warna-warni tumbuhan, seperti festival sakura sudah tak nampak lagi. Orang-orang beraktivitas seperti biasa, melakukan berbagai macam pekerjaan, baik yang lazim hingga yang tidak lazim.

Semua seolah acuh dengan semarak kepercayaan yang ada di belahan dunia lain. Langkah-langkah di pusat kota Tokyo yang begitu padat dan sibuk terus mengalir, orang-orang saling menyusul satu sama lain, berpapasan satu sama lain, nampak seolah terburu-buru namun menahan diri agar tak nampak berlari.

Sejumlah pria ada yang merokok di emperan jalan, ada pula menjajakan takoyaki di dalam gerobak-gerobak usang dari titik ke titik. SesekalI mereka melirik kearah warung ramen yang pemiliknya jelas jauh lebih beruntung dari mereka. Waktu-waktu pulang kerja bagi para karyawan-pulang –sore ini adalah rezeki bagi para pemilik warung tersebut.

Selaksa ibu kota, gedung-gedung tinggi juga bertabur di berbagai sudut, di mana para pria dan wanita melaksanakan semua aktivitas yang dapat dilakukan,demi menyambung kelangsungan hidup diri dan keluarganya. Begitu pula di sebuah gedung kumuh yang penuh suara baku hantam. Derit-derit sepatu menghiasi malam itu, seolah gedung itu tak pernah mati.

Lelaki Jepang berkumis tipis duduk santai di sebuah kursi tua di sudut gedung itu, menghisap cerutunya sekali-sekali sembari menuliskan beberapa baris kalimat di sebuah buku bersampul biru. Buku itu ditekannya kuat-kuat kearah permukaan meja di depannya, seolah buku itu akan terbang ke mana-mana bila ia lepaskan.

Seorang pemuda yang penuh peluh berjalan ke arahnya, mengambil sebuah kursi lalu duduk di samping si bapak tua setelah diberi kode untuk duduk.
“Yak, sudah diputuskan,” Si lelaki tua menutup buku yang sejak tadi ia coret-coret, tepat 3 detik setelah sang pemuda duduk.
“Hah? Apanya? Aku belum sepakat ,” protes Sang pria muda. Nampaknya kata-kata tadi berarti begitu sensitif baginya. Dengan perawakan besar, tinggi, dan gagahnya seharusnya ia bisa saja meninju bapak itu. Namun entah mengapa, ada sesuatu yang menghalanginya untuk melakukan itu.

Yang diprotes justru berdiri, melangkah meninggalkan meja, lalu menyambangi sebuah ring di mana dua pria culun saling memukul dan memeluk.
“Latihan cukup ! Semua boleh pulang. Cepat bersihkan ring, sansak, dan simpan sarung tinju di gudang!”
Suaranya cukup keras untuk menghentikan semua aktivitas para petinju. Dalam beberapa menit saja, enam ring yang digunakan untuk berlatih malam itu langsung lengang. DI sasana itu, kini hanya tersisa dua orang. Si pembubar latihan, yakni sang pelatih, dan si petinju muda yang sedari tadi menatap sang pelatih dengan raut mata yang mengisyaratkan ketidaknyamanan.
“Aku belum selesai, aku belum deal denganmu,” lantang si pemuda dengan ketegasan yang tidak dibuat-buat. Sedikit gurat kemarahan muncul di dahinya. Wajah dan logatnya menjelaskan bahwa ia bukan orang asli Jepang, namun tak diragukan lagi bahwa ia telah menguasai bahasa tersebut dengan baik.

Kening sang pelatih pun berkernyit. Sembari mengumpulkan sarung tinju di sebuah box, Ia membersihkan ring beserta kanvasnya yang terciprat beberapa tetes darah.
Sementara sang pria muda berdiri dengan sikap tegang, masih mengenakan kaus tipis dan celana latihannya. Tangannya berbalut tali pelindung sarung tinju, sepatunya yang hitam berkilau masih dengan gagah menempel.

Mengelap keringat di dahi dengan sebuah handuk yang sedari tadi digenggamnya, ia menegaskan, “ aku tidak mau bertanding di bulan puasa ini, titik.”
Pernyataan tegas itu cukup menghentikan langkah sang pelatih beruban yang hendak memasuki gudang penyimpanan peralatan dengan membawa box sarung tinjunya.
“Anak muda, “ ucapnya sembari bergeleng kepala dan meninggalkan kotak tersebut di depan gudang, “Semenjak lancar berbahasa Jepang, aku merasa kau mulai pandai membantahku juga rupanya,”

Ia mendekat kearah pemuda yang dari segi usia layak menjadi anaknya itu. Dipegangnya bahu sang murid. Ia bertutur perlahan, satu persatu kata dilafalkan dengan tegas.
“Intinya, aku sudah teken kontrak dengan promotor lokal. Dua minggu lagi kau bertanding, melawan John Peter Hills dari Amerika. Bila menang kau resmi jadi professional. Kau akan mendapat ranking untuk perebutan gelar kelas menengah IBF, “ ujarnya sambil menyebut nama federasi tinju dunia itu.

“Anda bukan manajerku,”
“Kau tidak punya. Tepatnya aku memutuskan kau tidak punya manajer. Sebagai pengampumu di sasana aku berhak mengaturmu , terutama karena kau masih amatir,”
“Bila aku jadi pro, bisakah aku lepas dari Anda?”
Sang pelatih melepaskan tangan dari pundak pemuda. Ia nampak tak senang.
“Dulu, siapa yang tersesat saat datang dari Indonesia, lalu kuterima di sini, lalu kuajari tinju?”
“Itu cerita lama, tak ada artinya lagi semenjak Kau memberiku kontrak palsu itu ! ”
Pikiran pemuda Indonesia itu bergejolak usai diucapkannya kalimat tadi. Masih hangat di benaknya, orang tua di depannya ini semula ia anggap ayah sendiri. Ia begitu bersahabat, menolongnya dari nasib mengenaskannya di jalanan Tokyo. Namun kelamaan ia menjebaknya dengan sebuah kontrak kotor berbahasa Jepang, bahasa yang saat itu belum ia kuasai.
“Tuan Toriyama, kurasa bekerja sebagai budakmu selama 2 tahun sudah cukup. Tak perlu kau ingat-ingat hal yang membuatku seolah berhutang padamu. Penipuanmu membuat semuanya menjadi impas,” lanjutnya
Sang pelatih terbelalak. Ia mulai melihat gejala tak menyenangkan. Kekesalan, kegerahan sang pemuda nampak terakumulasi.

Lalu ia merogoh sesuatu di sakunya. Cukup sulit, namun ia berhasil mengeluarkan selipat kertas lusuh. Entah telah dilipat berapa kali, hingga nampak kecil sekali. Dibukanya lipatan itu, ternyata kertas itu sedikit lebih besar dari ukuran A4. Di dalamnya hanya berisi beberapa baris kalimat. Serta tak lupa dua bubuhan tanda tangan di bawahnya.
“Mau palsu atau tidak, kau sudah tanda tangan!! Kertas ini punya kekuatan hukum! Bila kau langgar kontrak ini, aku bisa perintahkan polisi menangkapmu!” Sengalnya
Berhenti sebentar menarik nafas,lalu dilanjutkannya. “Seandainya kau kabur pun, anak buahku di seluruh penjuru akan memastikan kau kembali ke sini, hidup atau pun mati,” kali ini ia mendesis perlahan, penuh nada mengancam.

Si pemuda menatap kertas di genggaman pelatih Toriyama. Kini ia sangat paham apa yang tertulis di sana.
‘Dengan ini, saya selaku pihak pertama bersumpah untuk mengabdikan hidup kepada pihak kedua hingga tak dibutuhkan lagi. Pihak kedua berhak menggunakan tenaga, waktu dan pemikiran pihak pertama, bahkan untuk keperluan keuangan. Bila pihak pertama melanggar kesepakatan, kertas ini memiliki kekuatan hukum untuk menuntut pihak pertama dengan hukum Negara , dengan hukum seberat-beratnya.

Pihak pertama, Bainul Naufal. Pihak kedua, Mamoru Toriyama’
Kontrak ini benar-benar tak masuk akal, bahkan ia tak paham satu hurufpun saat menandatanganinya. ‘Mengabdikan hidup?’ Si tua biadab ini memanfaatkan hutang budi untuk menggiringnya ke dalam neraka dunia!
Diingatnya lagi betapa keras ia berlatih, lalu bertanding dengan petinju-petinju jepang nan haus darah. Setelah tubuh dan wajah yang teluka parah, uang tiket pertandingan tentu saja milik Toriyama. Ia juga disuruh bekerja bagai budak mengurus rumah bututnya serta sasana ini. Yang jelas ia rasakan hilang, tentu saja yang paling mahal: Kebebasan!
Bainul tentu saja selalu mengintip peluang untuk lari sejauh-jauhnya atau menghancurkan kertas kontrak sialan itu, namun keduanya benar-benar nyaris mustahil dan penuh konsekuensi.

Kini ia diperintahkan bertanding di bulan Ramadhan. Dan itu tak secuil pun ia inginkan.
--------------------------------------------------

Sejak kecil ia dibesarkan panti asuhan. Tak tahu siapa orangtuanya. Ia hanya diberi tahu—atau tepatnya mencari tahu—bahwa kedua orang tuanya meninggal lantaran kecelakaan mobil di Bandung, dan tak ada satu pun sanak familinya yang mengetahui terjadinya kejadian naas tersebut. Hal ini dikarenakan mobil yang membawa mereka bertiga saat itu meledak dan bahkan tak ada satu pun dari ayah mau pun ibunya yang dapat dikenali identitasnya.

Mengenai keselamatan Bainul dari ledakan, disinyalir hanyalah sebuah keberuntungan karena penduduk setempat mendengar suara bayi dari dalam mobil beberapa saat sebelum mobil meledak. Beberapa saksi meyakini mobil tersebut tidak berplat F , yaitu kode plat kendaraan kota Bandung, namun mereka sendiri tidak sempat melihat apa kode platnya. Hal ini semakin memburamkan identitas korban kecelakaan naas ini. Siapakah identitas korban? berasal dari mana? dan siapa sanak saudara si bayi ini? Semua tak bisa terungkap.
--------------------------------------------------
Bainul terduduk di kamarnya yang sempit dan cukup gelap di dekat pintu masuk sasana, sepulangnya Toriyama dari sana. ‘Rumah’ ini , hanyalah sebuah ruang kecil seukuran pos satpam. Di dalamnya hanya terdapat sebuah lemari kecil, sebuah meja, kursi, dan sebuah tikar. Benar-benar menyedihkan.
Ia teringat sebuah hal yang hingga kini sangat berkesan di hatinya. Apa itu? Yaitu sebuah jam tangan kecil, tidak bermerk apa pun, bertali hitam yang menurut para pengurus panti, terlingkar di tangan mungil kirinya saat ia ditemukan dalam mobil. Benar, memang sangat aneh mendengar bahwa ia memiliki jam tangan sejak bayi, namun itu tak penting bagi bainul. Baginya, yang penting adalah tulisan yang berada di tali jam itu.

‘Mari ciptakan ramadhan yang damai, tanpa ada kekerasan...'
Air mata membasahi mata Bainul. Ia merasa, hanya benda itulah satu-satunya penghubung antara dirinya dan kedua almarhum orang tuanya. Benda itu memberikan sebuah citra dalam benaknya mengenai ayah dan ibunya. Itu adalah cinta damai. Ia merasa suara hatinya juga berkata seperti itu. Ia sangat benci kekerasan. Ia menyukai olahraga serupa seni bela diri secara substansial, namun ia tak suka mengadu dua orang manusia untuk disebut ‘yang terbaik’ dalam olahraga.

Sesekali menghapus air mata, ia mengenang lagi masa-masa bahagianya di panti. Panti asuhan itu memberinya sebuah identitas--- sesuatu yang belum pernah ia miliki--- dan kebahagiaan. DIdidik dengan suntikan kepercayaan diri, ia sangat menonjol dalam bidang olahraga. Terutama olah raga bela diri seperti judo. Setelah Otot-ototnya berkembang pesat, muncullah niatan untuk mempelajarinya lebih banyak di negeri orang.

Berbekal tabungannya selama bekerja part-time sebagai kuli di masa SMA, ia memutuskan ke Jepang setelah lulus. Walau pihak panti melarang, tekadnya yang kuat untuk belajar langsung di negerinya ilmu bela diri membuatnya tak terhentikan. Berhasil kabur, ia lalu berhasil tiba di Jepang.
Di tengah keasyikannya melamun, tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu.
“Ini aku, bukakan pintu dong kang” suara seorang remaja terdengar di luar
Bainul tersenyum geli—senyum pertama selama seminggu ini--- karena ia tahu suara itu berasal dari Jun Ishihara, seorang petinju muda sasana berbakat berusia 18 tahun. Walau masih muda, ia telah dipercaya menjadi lawan sparring bagi para petinju senior di sasana. Dia baik , menyenangkan---setidaknya Bainul berpendapat ia orang terbaik di sasana—dan ramah. Bahkan ia mau-mau saja diajari memanggil dirinya dengan sebutan ‘kang’.
“Hei bocah, seharusnya Jepang memberlakukan jam malam bagi anak di bawah umur,” ujar Bainul sembari membuka pintu.

Yang disebut anak di bawah umur hanya nyengir, mengeluarkan sebuah plastik hitam dari tasnya dan mengeluarkan isinya.
“Ini ada makanan sisa di rumahku, tolong dimakan ya,” Jun menyodorkan dua bungkus nasi kare sambil cengengesan
“Sialan, kau kira aku anjing?”
Dan, malam itu tawa meledak di sasana
Jun Ichihara memutuskan untuk berhenti sekolah setelah smp karena ingin mendalami tinju. Padahal dengan parasnya yang cukup tampan ditambah rambut belah tengah yang klimis dan badan yang tegap, ia bisa saja jadi model. Namun, yang ada di otak bocah ini memang cuma tinju.
“Sial, coach Toriyama hari ini keras sekali,” keluhnya sambil makan nasi kare yang tadi dibawanya
“Kau melafalkan ‘coach’ dengan salah, bodoh.” Kekeh Bainul sambil memasukkan sesendok kare ke mulutnya. Jun selalu melafalkan kata ‘coach’menjadi ‘koij’.
“Apalah namanya, namun aku lelah sekali. Senpai, aku salut kau bisa bertahan. Aku dari dulu merasa ia sentimen terhadapmu,” ujar Jun dengan mimik serius
“Yah, begitulah. Karena aku orang asing, wajar saja,” jawab Bainul. Jun tidak mengerti tentang kontrak ‘budak’ itu. Dan memang di sasana tak ada yang tahu selain dirinya dan Toriyama.
“Omong-omong, bagaimana kau bisa memilih sasana ini dari sedemikian banyak sasana tinju di Jepang, senpai?”
“Dulu, setelah sampai di Jepang, aku lontang lantung karena tak tahu arah. Kelamaan aku kehabisan uang, dan Toriyama menemukanku sedang berkelahi dengan seorang lelaki mabuk. Dia memintaku ikut di sasana ini dengan iming-iming harta dan kesuksesan, dan… yah begitulah, aku di sini,”
“Nyatanya, kau hidup tak layak!”
“Yaa, ada beberapa permasalahan yang kau tak tahu antara aku dan dirinya. Aku tak terlalu mempermasalahkan hidupku di rumah ini, namun yang penting aku harus cari cara untuk tak bertanding selama sebulan ini,”
“Heeh, kenapa??”
“Dalam kepercayaanku, ini adalah bulan di mana aku harus berpuasa, menahan diri dari makan-minum, emosi berlebihan, yah seperti itulah,”
Jun tampak kesulitan memahaminya
“Berarti, bertinju pun tidak boleh?”
“Aku selalu bertinju dengan emosi dan niatan untuk menyakiti, aku tak ingin melakukannya. Selain itu, ada alasan lain,” jawab Bainul sambil mengeluarkan jam tangan kecilnya yang selalu ia simpan di dalam laci meja.

“Apa maksud kalimat ini?” Tanya Jun setelah melihat tulisan di tali jam.
“Itu bahasa Indonesia, bahasaku, yang artinya ajakan untuk menghindari kekerasan saat kita berpuasa. Yah, sebetulnya tidak berpuasa pun kekerasan juga tak dianjurkan sih,” Jawab Bainul sambil hati-hati, tak ingin Jun salah intrepretasi mengenai kepercayaannya.
“Ini jam tangan peninggalan orang tua ku, menurutku itu adalah pesan dari mereka…tak akan kukhianati,” lanjut Bainul.
Jun menatapnya dengan raut yang, entah, lebih mirip penyesalan dari pada kasihan.
“Padahal aku ingin menjadi lawan sparringmu… yah kalau kau tidak jadi bertanding apa boleh buat,”
Tiba-tiba terlintas sesuatu di benak Bainul.
“Tidak! Aku punya ide! Kita akan tetap sparring!!”

BERSAMBUNG ke Part 2

Monday, August 30, 2010

Lagu Religi Terbaik

Lagu religi sudah menjadi seperti barang wajib pada bulan suci. Setiap tahun minimal satu album religi baru terbit. Sampai sekarang sudah banyak sekali album-album religi yang sudah terbit di pasaran Indonesia, mulai dari grup lawas Bimbo, grup nasyid, sampai band beraliran rock. Nah, dari sekian banyak lagu religi kami mau mereview 3 lagu religi terbaik menurut kami yang pernah terbit di Indonesia, dan 1 lagu religi terbaik tahun ini.

3. Tombo Ati – Opick

...yee iyee iyee iye ee e eee wowowee oo ee iyeyeyeye obat hati... Manusia mana sih yang ga tau lagu ini? “Tombo Ati” adalah bagian dari album solo pertama dari Aunur Rofiq Lil Firdaus atau Opick yang berjudul “Istighfar” pada tahun 2005. Lagu ini berhasil membuat album tersebut mendapatkan double platinum hanya dalam kurun waktu satu bulan! Wow. Tombo Ati yang merupakan bahasa jawa mempunyai arti obat hati. Seperti judulnya, lagu ini memberitahu kita “obat-obat” untuk menyembuhkan hati kita yang sakit. Syair lagu ini sendiri katanya adalah ciptaan Sunan Bonang, salah satu dari Walisongo.

2. I’tiraf – Raihan


Lirik dari lagu ini sangat dalam dan bagus, sampai-sampai lagu yang berisi sama pernah dimainkan oleh Haddad Alwi, Haddad Alwi, Ust. Jefri dan Gigi dengan versi mereka masing-masing tentunya. Lirik lagu ini diambil dari doa seorang Abu Nawas, ya, Abu Nawas yang terkenal dengan kekonyolannya. Doa tersebut ia ucapkan saat sedang merenung memandangi matahari petang, lalu saat matahari itu tenggelam, ia pun meneteskan air mata. Abu Nawas yang saat itu sudah tua sadar bahwa tidak ada yang abadi, manusia juga akan seperti matahari itu, ada saatnya ia tenggelam. Raihan sendiri sudah banyak mengeluarkan lagu-lagu yang berkualitas seperti Demi Masa yang albumnya sukses meraih double platinum. Raihan pun pernah diberi penghargaan oleh Ratu Elizabeth II saat konser di Inggris.

1. Ada Anak Bertanya Pada Bapaknya – Bimbo

Lagu yang muncul pada era 70an ini masih eksis di telinga masyarakat Indonesia hingga sekarang. Lagu ini diciptakan oleh Sam Bimbo dan lirik oleh penyair hebat Taufiq Ismail. Tak heran jika lagu ini disebut-sebut sebagai lagu religi sepanjang masa. Liriknya yang unik dan dinyanyikan secara apik membuat lagu ini akrab ditelinga berbagai lapisan masyarakat. Lebih lagi, Bimbo bukanlah seperti grup musik jaman sekarang yang mendadak religius kalau bulan Ramadhan. Bimbo selalu memasukkan lirik yang dalam dan mencontohkan kereligiusannya dalam kehidupan nyatanya. Selain lagu ini masih banyak lagu-lagu Bimbo yang patut didengar dan masih eksis hingga sekarang, contohnya adalah “Rindu Kami Padamu”, “Tuhan”, “Sajadah Panjang”, dan masih banyak lagi.

Lagu religi terbaik tahun ini:

1. Amnesia – Gigi

Lagu ini merupakan satu dari 15 lagu dalam album religi yang dikeluarkan Gigi Ramadhan kali ini yang bernama Amnesia. Lagu ini juga hasil kerjasama dengan seorang artis sekaligus produser film papan atas, Deddy Mizwar. Lagu berirama rock yang menjadi ciri khas Gigi ini tidak hanya menyuguhkan irama yang asik namun liriknya pun dibuat sangat bermakna.
Lirik lagu amnesia ini sepertinya diambil dari salah satu hadits nabi :


بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِى كَافِرًا أَوْ يُمْسِى مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا
Artinya: (Rasulullah bersabda), “Bersegeralah kalian mengerjakan amal-amal shalih sebelum terjadi fitnah (bencana) yang menyerupai kepingan-kepingan malam yang gelap gulita, yaitu seseorang diwaktu pagi beriman tapi pada waktu sore ia telah kafir, atau pada waktu sore ia beriman dan pada pagi harinya ia telah kafir, ia rela menjual agamanya dengan secuil keuntungan dunia.” (Shahih Muslim)


Hadits ini menyentil kita-kita yang suka berbuat maksiat padahal telah beribadah, istilahnya STMJ (sholat terus maksiat jalan). Segitu saja review dari kami kali ini, kalau ada pendapat atau apapun feel free untuk meninggalkan komentar dibawah ini. Apapun lagunya, yang penting semoga ibadah kita di bulan Ramadhan ini meningkat dan membawa berkah. Amin. (LA)

Introduction

Selamat datang di LeBeaufille!

Oke, pertama-tama, perkenalkan, nama saya Leon Aulia dan saya Luqman Hidayatullah. Kami sebagai orang dibalik terbentuknya blog ini mengucapkan matur nuwun, hatur nuhun atas kesediaan anda untuk mampir di laman ini. Merupakan sebuah kehormatan bagi kami dikunjungi orang cerdas seperti anda. Mengapa kami tahu anda cerdas? Karena anda membuka blog ini... krik krik krik...

Disini, anda akan menjumpai berbagai macam rubrik, mulai dari yang menarik bibir anda 5 cm ke kanan dan ke kiri seperti jokes, hingga yang membuat alis anda terangkat ke atas.

Yeah, anyway by the way busway, LeBeaufille memang sengaja dibuat khusus bagi anda, pembaca yang budiman. Kami tidak tahu latar belakang pekerjaan anda, mau pun latar belakang anda membuka alamat blog ini. Mungkin anda seorang ilmuwan, mahasiswa, guru, tukang becak, pedagang jajanan sd yang tidak higienis, atau bahkan nahkoda kapal layar.

Mungkin disini anda ingin belajar, atau ingin haha-hihi atau sekedar melepas penat bolehlah... asal jangan melepas pakaian. Tapi yakinlah kami selalu berusaha agar anda mendapatkan sesuatu yang bermanfaat di majalah ini.

LeBeaufille memang dibuat dengan hati yang santai dan ceria, namun kami harap substansi ringan majalah ini juga memberikan sesuatu yang ‘berat, mendalam, dan berisi’ dalam kehidupan anda sehari-hari. ;D

Di edisi Ramadhan ini, sekalian kami ucapkan selamat berpuasa bagi yang merayakan. Semoga tetap jadi manusia kontributif di ramadhan ini.

Ini bukan curhatan dua buah mahasiswa stress , tapi jika anda mendapati ada yang tidak beres dalam laman ini, atau pun ada saran dan kritik tolong segera kirim saja ya ke leon7shevchenko@yahoo.co.id atau luck_notsofat@yahoo.com. Bisa juga add Facebook kami, hehe…Kami tunggu saran membangunnya ya!
Dan… terakhir, kami tunggu kunjungan dan komennya!
Danke, gracias, merci!


Leon Luqman